Menkes meminta masyarakat memperlakukan ODHA (orang dengan HIV AIDS) secara bermartabat. "Untuk mengatasi HIV AIDS tidak bisa menggunakan cara keras karena hal ini tidak akan efektif," ujar Menkes.
Beliau juga menuturkan dalam upaya pengendalian HIV AIDS tetap harus menghormati harkat, martabat, norma dan agama, serta memperhatikan keadilan, kesejahteraan dan kesetaraaan gender. Hal lain yang juga penting adalah harus melindungi ODHA (orang dengan HIV AIDS) agar tidak terjadi kasus dimana mereka dihakimi masyarakat.
Menkes mengatakan dalam pengendalian HIV AIDS harus secara berkesinambungan serta melibatkan seluruh komponen seperti LSM, pemerintah dan masyarakat dengan prinsip kemitraan. Karena itu, diperlukan langkah-langkah yang tepat agar bisa membantu mengurangi angka pengidap HIV AIDS. Pengendalian angka HIV AIDS ini meliputi penyuluhan dan upaya pencegahan melalui gerakan bersama. Diharapkan jika pengendalian ini bisa berhasil maka angka HIV AIDS bisa menurun di Indonesia.
Tenaga Medis Rentan Terpapar Hepatitis
Tenaga medis merupakan profesi yang berisiko terinfeksi virus dari pasien. Angka kejadian tenaga kesehatan yang tertular Hepatitis B dan C cenderung tinggi. Sementara yang tertular HIV belum pernah ada. Karena itu diperlukan kewaspadaan menyeluruh bagi tenaga kesehatan. Beberapa penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui darah seperti Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV memang berisiko menulari tenaga kesehatan.
Penularan ini dapat terjadi melalui kulit yang terluka oleh jarum, pisau dan benda tajam lain atau paparan selaput lendir dengan cairan tubuh.
"Luka di kulit mempunyai risiko lebih tinggi terkena infeksi dibandingkan terpaparnya selaput lendir, dengan risiko tertinggi untuk Hepatitis B, Hepatitis C dan paling kecil infeksi HIV," ujar Prof dr Zubairi Djoerban,SpPD-KHOM dalam acara seminar 'How to deal with HIV AIDS' hari pertama di aula FKUI Salemba, Jakarta, Sabtu (12/6/2010).
Prof Zubairi menuturkan tenaga kesehatan yang berisiko terinfeksi itu mulai dari perawat, dokter (bedah atau non bedah), teknisi laboratorium hingga tenaga kebersihan. Tempat kejadiannya pun bisa dimana saja baik di bangsal perawatan, ruang operasi, unit gawat darurat maupun ICU. Karena itu kewaspadaan universal harus dilakukan di semua lini dalam institusi pelayanan kesehatan.
Prof Zubairi menambahkan jika tenaga kesehatan tertusuk jarum atau timbul luka saat kontak dengan pasien maka yang harus dilakukan:
- Segera cuci tangan dengan air mengalir dan sabun
- Melaporkan hal tersebut dalam catatan medis
- Mencari tahu data mengenai pasien
- Melakukan manajemen spesifik seperti konseling dan tes pemeriksaan lebih lanjut.
Jika terjadi paparan dengan darah atau cairan tubuh yang berisiko tinggi menularkan HIV maka segera diberikan obat antiretroviral (ARV) dalam 36 jam pertama. Sedangkan jika berisiko hepatitis bisa diberikan vaksinasi untuk mencegahnya
Hati-hati prilaku seks tidak aman
Ahli penyakit kulit dan kelamin dr Farida Zubaier, SpKK(K) mengungkapkan penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang bisa ditulari melalui hubungan seksual. Bersamaan dengan itu juga mempengaruhi penularan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya seperti herpes genital dan juga sifilis (raja singa).
"Penyakit Infeksi menular seksual (IMS) yang gejalanya berupa ulkus (luka) pada genital (alat kelamin) cukup sering ditemukan pada orang yang HIV positif. Namun untuk jumlah angka pastinya di Indonesia belum ada," ujar dr Farida dalam acara seminar 'How to deal with HIV/AIDS' di aula FKUI, Salemba, Jakarta, Sabtu (12/6/2010).
Dr Farida menuturkan jika seseorang memiliki penyakit herpes atau sifilis lalu melakukan hubungan seksual dengan orang yang positif HIV, maka virus HIV akan lebih mudah dan lebih cepat masuk ke dalam tubuh si penderita penyakit kelamin.
Sebaliknya jika seseorang sudah positif HIV lalu kemudian terinfeksi penyakit kelamin maka pengobatannya akan lebih lama dan juga sulit untuk didiagnosis.
Ada 2 penyakit infeksi menular seksual yang sering dijumpai pada penderita HIV positif, yaitu:
Herpes genital (herpes kelamin)
Herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki gejala yang khas. Namun ukuran ulkus (luka) yang timbul cenderung lebih besar dan juga lebih dalam. Kejadian rekurensi (munculnya) juga cenderung lebih sering yang membuat proses pengobatannya lebih lama dibandingkan dengan orang yang memiliki herpes genital tanpa HIV.
Penyakit ini lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit dengan penderita. Umumnya gejalanya adalah timbul bintil-bintil di bagian luar alat kelamin yang bentuknya memerah dan membengkak. Virus ini juga bisa menulari bagian tubuh lain seperti mulut.
Sifilis (Penyakit raja singa)
Penderita HIV yang memiliki penyakit sifilis atau penderita sifilis saja gejalanya tidak berbeda dan tidak menunjukkan gejala yang khas. Perjalanan penyakit ini lebih lambat dalam arti penyakit ini bisa menetap lama di stadium yang sama, serta hasil serologi bisa tidak sesuai dengan stadiumnya.
"Namun seringkali seseorang yang mengalami kondisi ini disertai dengan adanya kelainan pada matanya," ujar staf pengajar divisi infeksi menular seksual departemen kulit dan kelamin FKUI/RSCM.
Dr Farida menyarankan penderita positif HIV yang memiliki sifilis memeriksakan diri ke bagian saraf, mata dan pendengaran. Jika ditemukan tanda bercak-bercak merah di telapak tangan dan kulit yang tidak gatal patut dicurigai sebagai sifilis.
Trackback(0)
TrackBack URI for this entryKomentar (0)
Tulis Komentar


